Pemilihan Puteri Muslimah Indonesia dan Miss-Missan: Apa Bedanya?

1701

Sembari menunggu jeruk panas di warung makan soto, pandangan penulis tertuju pada kotak ajaib yang tergantung di tembok meja atas. Di sana, sebuah stasiun televisi swasta sedang menayangkan ajang kecantikan. Bukan ajang kecantikan “biasa”, melainkan ajang pemilihan Puteri Muslimah Indonesia 2016 (seharusnya menggunakan kata “putri” bukan “puteri”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tak ada kata “puteri”).

Deretan muslimah nan cantik dengan balutan jilbab dan busana yang indah berlenggok-lenggok bak model di panggung yang megah itu. Di seberangnya, duduk para juri yang tak lain adalah Inneke Koesherawati, mantan Putri Indonesia  Artika Sari Devi—yang kebetulan memakai jilbab memakai ‘jilbab’ malam itu, dari production house Chand Parwez, dan tokoh pluralis Yenny Wahid.

Sepintas pemilihan ini tak jauh beda dengan pemilihan sejenisnya, seperti  Putri Indonesia, Miss Indonesia dan sejenisnya. Yang membedakan hanya balutan pakaian, wawasan keislaman dan selalu diawali dengan kalimat “Assalamualaikum” serta kalimat thayyibah lain. Selebihnya nyaris sama, dicari yang tercantik dan berisi kontestan yang cantik-cantik—jelas karena bernama kontes kecantikan, meski brain dan behaviour hanya penyokong belaka.

Sepakat Tidak Sepakat

Dalam kaca mata bisnis, kontes kecantikan apa pun namanya, itu tak lain untuk membangun ekosistem.

Pemilihan putri kecantikan sejagat atau  Miss Universe dulu diawali oleh produsen pakaian renang. Sementara Putri Indonesia diawali oleh produk make up Mustika Ratu.  Sementara Putri Muslimah Indonesia, silakan lihat sponsornya, salah satunya adalah Wardah.  Sebab donatur dan sponsor rata-rata “urusan bidang kecantikan”, jadi wajar jika yang dinilai adalah kecantikan.

Sebelum bilang sepakat atau tidak sepakat, protes dan tidak protes, beberapa waktu lalu kita masih ingat dimana Ketua Komisi D DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, sempat mengecam kontestan Miss Indonesia, Flavia Celly Jatmiko, yang berdiri sebagai wakil Aceh. Apa sebab?  Flavia tidak pernah tinggal di Aceh.  Hal itulah yang membuat status Flavia Celly sebagai wakil Aceh gencar dipertanyakan di berbagai kalangan, karena dinilai telah melukai budaya lokal Aceh. Alasannya kontes Miss Indonesia kerap dikaitkan dengan pakaian yang terbuka. Hal itu tidak sesuai dengan syariat Islam yang ditegakkan di Aceh.

“Terhadap perempuan Aceh asli saja kami tidak sepakat untuk mengikuti kontes kecantikan tersebut. Apalagi terhadap orang yang notabene berada di luar Aceh lalu mengatasnamakan Aceh,” kata Farid seperti dilansir Muvila.

Tentang muslimah yang mengikuti kontes kecantikan, Ibnu Qatadah mengatakan bahwa tabarruj adalah seorang perempuan yang jalannya dibuat-buat dengan genit. Sementara Ibnu Katsir menjelaskan, yang disebut dengan tabarruj adalah seorang perempuan yang keluar rumah dengan berjalan di hadapan laki-laki, dengan maksud memamerkan tubuh dan perhiasannya. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menukil pendapat Qatadah yang menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan tabarruj adalah saat muslimah keluar rumah mereka, lalu mereka berjalan, berlenggak lenggok hingga pria memperhatikannya dan menggoda.

Sepakat atau tidak sepakat, kontes kecantikan berbalut hijab sudah terjadi dan menjamur belakangan ini. Sebagai seorang muslim tentu tahu di mana kita punya sikap dan jati diri. Sebab, sekali lagi, kontes kecantikan ya kecantikan jasadi.

“Pemilihan Puteri Muslimah Indonesia apakah antitesa dari Putri Indonesia?” tanya penulis kepada seorang guru melalui pesan pendek.

Tak lama kemudian dia membalas pesan tersebut, “Godhul bashor. Jaga pandangan ya akhi!”

Jeruk panas bervitamin C di tangan lama-lama mendingin.

Wallahua’lam.

Copyright © Bersamadakwah.net

Bagaimana pendapat anda?

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY