Kelaparan di Madaya Suriah, Dedaunan Pun Tak Ada Lagi

557

Kelaparan melanda kota Madaya di Suriah akibat perang sipil yang berkecamuk lebih dari 5 tahun. Masyarakat bertahan hidup dengan air dan dedaunan yang bisa dimakan.

Tapi kini musim dingin melanda. Dedaunan pun tak ada.

“Kelaparan ini adalah puncak gunung es,” kata Philip Luther, direktur Amnesty International untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti dikutip CNN, Sabtu (9/1).

“Rakyat menderita dan sekarat di seluruh Suriah, karena kelaparan ini telah dipakai sebagai senjata perang, baik oleh pemerintah maupun kelompok bersenjata,” kata Luther lagi.

Bantuan untuk bencana ini sudah mulai didistribusikan, tapi belum mencapai Madaya. Menurut laporan World Food Programme (WFP), sebuah konvoi bantuan makanan dari WFP, Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah dari Arab Suriah, sudah dikirimkan.

Bantuan itu cukup untuk 40 ribu orang selama sebulan, begitu kata juru bicara WFP Abeer Etefa. Tapi bantuan itu baru akan tiba di Madaya pada hari Minggu (10/1) atau paling lambat hari Senin (11/1).

Musim Dingin Tiba, Daun-Daun pun Tak Ada

“Terakhir saya makan yang lengkap setidaknya satu setengah bulan yang lalu,” kata Louay, salah seorang penduduk Madaya, seperti dikutip oleh Amnesty International.

“Sekarang, kebanyakan saya hanya punya air dan dedaunan. Sekarang musim dingin dan pohon tak punya daun, jadi, saya tak tahu bagaimana lagi caranya bertahan hidup,” tutur Louay lagi, saat diwawancarai pada 7 Januari lalu.

Um Sultan, warga yang lain, mengatakan makin banyak orang yang akibat kelaparan dan kesakitan, tak bisa lagi bangkit dari tempat tidur. Termasuk suaminya. “Saya tak mengenali dia lagi, karena tinggal kulit dan tulang,” ujarnya

Segalanya Mahal

Meskipun ada makanan di Madaya, harganya kelewat mahal. Sebagai perbandingan, tepung dibanderol 79 sen dolar per kilogram di Damaskus. Tapi di Madaya harganya mencapai US$ 120 per kilogram.

Susu di Damaskus bisa dibeli seharga US$ 1,06 per liter. Tapi di Madaya harganya membubung sampai US$ 300 per liter.

Jumlah korban yang tewas akibat bencana itu masih simpang siur. Kelompok Medecins Sans Frontieres menyebutkan 23 orang tewas sejak 1 Desember 2015. Tapi ada aktivis yang menyebutkan angka 41 orang.

Adapun pernyataan resmi PBB menyatakan hanya seorang yang tewas. Dia adalah pria berusia 53 tahun, yang lima anggota keluarganya yang lain masih menderita kelaparan dan gizi buruk.

Penduduk makan apa saja yang bisa dimakan untuk bertahan hidup. Seperti terlihat di sebuah video yang muncul di media sosial. Seorang ibu direkam sedang memasak panci berisi air yang berwarna hijau.

Pria yang merekam video itu bertanya dalam bahasa Arab, apa yang dimasak sang ibu. Dia menjawab: “Rumput untuk pria tua itu.” (ded/ded)

 Sumber : CNN Indonesia

Bagaimana pendapat anda?

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY