BOLEHKAH MERASA PALING BENAR? (BAG. 3)

1774

SYUBHAT KELIMA: KAUM MUSLIMIN DIBANTAI, TAPI KAMU TETAP PERSOALKAN BID’AH DAN SYIRIK?

Di antara sebagian alasan yang selalu didengungkan adalah ketika engkau berbicara tentang sunnah dan bid`ah tauhid dan syirik, sebagian orang mengingkari dengan berkilah bahwa kaum muslimin di bantai di mana-mana dan musuh selalu mengintai dan memuat makar untuk menghancurkan kaum muslimin, sehingga menurutnya kita tidak boleh berbicara mengenai masalah-masalah yang menimbulkan perselisihan, yang semakna dengan ini, seperti yang dinyatakan oleh  ustadz Muhammad Umar Assewed : Di antara syubhat-syubhat ahlul bid’ah dalam rangka menggembosi pe-ngamalan sunnah adalah ucapan mereka: “Kaum muslimin hari ini dalam keadaan lemah, diinjak-injak dan dijatuhkan mar-tabatnya oleh musuh-musuh Islam. Di mana-mana terjadi pembantaian kaum muslimin seperti binatang ternak, tetapi kalian malah sibuk mempelajari sunnah-sunnah, mengajarkan dan menerapkan-nya! Apakah kalian tidak memikirkan saudara-saudara kalian yang diban-tai?!…

Saudaraku seiman, setiap orang yang ada dalam hatinya keimanan pasti akan sakit melihat saudara-saudaranya sesama muslim di bantai, diperangi dan diperkosa hah-hak, bahkan ini adalah konsekwensi iman yang tidak sempurna keimanan tanpa hal itu dan sebagai bukti rasa cintanya kepada sesama muslim, akan tetapi rasa sakit itu tidak boleh menjerumuskan kita ke dakam perkara yang terlarang dalam syari`at atau mengucapkan kata-kata yang tidak diridhoi oleh Allah Azza wa jalla. Menerangkan sunnah dan bid`ah, tauhid dan syirik kepada umat adalah jalan satu-satunya menuju kejayaan umat Islam, karena sehebat apapun rencana busuk orang-orang kafir tidak akan memberikan kemudlorotan kepada kaum muslimin selagi mereka bersabar dalam menjalani ketaatan dan bertaqwa kepada Allah Azza wa jalla. Allah berfirman :

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيط

Artinya : “…Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka (Yahudi) sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” [QS. Ali ‘Imran: 120]

Ibnu Katsir berkata : Allah telah memberikan bimbingan kepada mereka kepada jalan keselamatan dari kejahatan orang-orang jahat, dan tipu daya muslihat orang-orang yang fajir dengan cara menggunakan kesabaran, takwa dan tawakkal kepada Allah yang meliputi musuh-musuh mereka, karena tidak ada daya dan upaya kecuali dengan idzin Allah…(Tafsir Ibnu Katsir).

Dalam ayat yang lain, Allah ta`ala berfirman :

40 : الحج: يَنْصُرُهُ مَنْ للَّهُ وَلَيَنْصُرَنَّ

Sungguh Allah pasti akan menolong orang yang menolong agama-Nya… (al-Hajj: 40)

 7 : محمد أَقْدَامَكُمْ وَيُثَبِّتْ يَنْصُرْكُمْ اللَّهَ تَنْصُرُوا إِنْ ءَامَنُوا الَّذِينَ يَاأَيُّهَا

Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhamamad: 7)

Secara terperinci, penulis akan nukil jawaban syubhat di atas dari ustadz Muhammad Umar assewed dalam artikelnya berjudul  : MENGHIDUPKAN SUNNAH TIDAK MENGHALANGI
KESIAGAAN MENGHADAPI MUSUH-MUSUH ISLAM

Pertama, perjuangan jihad mela-wan musuh-musuh Allah jika dilakukan dengan cara yang syar’i dan mencocoki ajaran Sunnah Rasulllah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada pertentangan dengan usaha menghidupkan sunnah-sunnah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, sekalipun pada perkara-perkara yang mereka ang-gap furu’.

Bisa kita lihat pada generasi perta-ma umat ini, mereka adalah para muja-hidin yang telah membuktikan kehebatan mereka di medan tempur melawan mu-suh-musuh Islam. Namun mereka tidak pernah sesaatpun meremehkan sunnah-sunnah seperti bersiwak, mengangkat pakaian di atas mata kaki, memotong kuku, merapikan kumis, membiarkan jenggot. Apalagi sunnah-sunnah yang berkaitan dengan ibadah mahdlah seper-ti gerakan-gerakan shalat yang sunnah, shalat lail dan membaca al-Qur’an serta dzikir pagi dan sore dan lain-lain.

Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada pertentangan antara melaksa-nakan sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan jihad melawan musuh-musuh Islam.

Kedua, dengan menghidupkan sun-nah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan semakin dekat kepada Allah. Dan ketika kita semakin dekat kepada Allah, maka Allah akan membela dan menolong kita. Sehingga kita katakan menghidupkan sunnah-sunnah justru mendukung da-tangnya kemenangan.

Ketiga, orang yang menghidupkan sunnah-sunnah akan mencapai derajat wali dan kekasih Allah yang akan dibela oleh Allah dan dikabulkan doanya. Maka Allah akan memenangkan mereka ketika menghadapi musuh-musuhnya sekuat apapun mereka, karena Allah ada di pihak mereka.
Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah berfirman:

Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku umumkan perang terhadap-nya. Tidaklah ada seorang hamba yang mendekatkan diri kepada-Ku lebih aku sukai daripada melaksanakan apa yang aku wajibkan kepadanya, dan seorang hamba yang terus-menerus mendekat-kan diri kepada-Ku dengan menger-jakan yang sunnah-sunnah hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintai-nya, Aku akan menjadi pendengaran-nya yang dia mendengar dengannya; Aku akan menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya; Aku akan men-jadi tangannya yang dia memukul de-ngannya; dan Aku akan menjadi kaki-nya yang dia berjalan dengannya. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh pasti akan Aku beri. Dan jika dia berlindung kepada-Ku, sungguh pasti akan Aku lindungi… (HSR. Bukhari)

Dengan hadits ini kita mengetahui bahwa dengan diamalkannya sunnah-sunnah, walaupun pada perkara-perkara yang mustahab (tidak wajib) akan me-nyebabkan kecintaan Allah terhadapnya. Kecintaan itu akan menyebabkan pembe-laan Allah terhadapnya. Maka yang demi-kian sungguh akan mendukung perju-angan jihad fie sabilillah, bukan justru sebaliknya.
Keempat, lebih tegas lagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa jalan keluar dari penderitaan dan kehinaan serta pe-nindasan orang-orang kafir adalah de-ngan kembali kepada agama Allah. Tidak dibedakan oleh beliau mana yang wajib dan mustahab, yang ushul maupun yang furu’, tidak pula dibedakan mana yang qusyur (kulit) dan mana yang lubab (inti). Artinya kembalilah kepada agama kalian secara kaaffah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Jika kalian telah berjual beli dengan ca-ra riba, telah mengambil ekor-ekor sapi, telah ridla dengan perkebunan-perke-bunan dan kalian telah meninggalkan jihad, maka Allah akan timpakan atas kalian kehinaan, yang kehinaan itu tidak akan Allah cabut hingga kalian kembali kepada agama kalian. (HSR. Abu Dawud)

Dengan hadits ini kita ketahui bahwa jalan satu-satunya untuk melepas-kan dari kehinaan yang menimpa kaum muslimin adalah kembali kepada agama Allah. Sedangkan agama Allah adalah seluruh yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, Dengan kata lain sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka sungguh aneh pernyataan para hizbiyyun di atas yang bernada me-mojokkan sunnah dan menganggapnya sebagai penghalang bagi perjuangan ‘jihad’. Hal demikian karena apa yang mereka anggap ‘jihad’ ternyata sebuah gerakan kebid’ahan yang mereka beri la-bel ‘jihad’, yang tentu saja bertentangan dengan sunnah.

Lihat para politikus atau hizbiyyun, mereka menamakan perjuangan partai mereka pada pemilu dan parlemen se-bagai jihad. Padahal pemilu dan demo-krasi adalah perkara bid’ah dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam, kare-na ajaran ini menganut sistem suara ter-banyak, sementara dalam Islam tidak demikian.

Akhirnya, ‘jihad’ mereka pasti akan bertentangan dengan sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka berusaha untuk meraih pengikut sebanyak-ba-nyaknya untuk memenangkan partainya; sedangkan orang yang menghidupkan sunnah–sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam akan terli-hat asing, sedikit bahkan akan dijauhi kebanyakan umat. Untuk itu mereka menganggap dengan diamalkan dan dihi-dupkannya sunnah-sunnah akan mengu-rangi suara partainya. Dan dengan ber-kurangnya pengikut mereka akan meng-gagalkan perjuangan mereka di parlemen.

Contoh kedua, apa yang dilakukan oleh khawarij. ‘Jihad’ menurut mereka adalah melakukan pemberontakan terhadap penguasa muslim yang sah. Tentu saja mereka akan menganggap halal da-rah kaum muslimin yang ada di peme-rintahan. Hal ini bertentangan dengan perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk taat kepada penguasa walaupun ia berbuat dhalim dan seterusnya. Dengan hal ini pula tentu saja mereka akan menghalalkan darah kaum muslimin yang ada di pemerintahan. Ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan haramnya darah kaum muslimin, kecuali pada tiga perkara, yaitu qishash bagi orang yang membunuh muslim dengan sengaja tanpa haq, hukum rajam bagi pezina yang sudah menikah dan hukum mati bagi orang murtad.

Dengan model ‘jihad’ yang seperti ini, pasti mereka akan menganggap sunnah-sunnah sebagai penghalang.

Demikian pula bagi mu’tazilah. Mereka tidak mau menerima sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kecuali yang mereka anggap masuk akal. Sehingga perjuangan mereka adalah perjuangan dengan cara-cara akal dan hawa nafsu mereka. Perjuangan model ini tentu saja akan kembali menganggap sunnah-sunnah sebagai penghalang perjuangan mereka. Dan mereka akan alergi jika melihat orang-orang menghidupkan sunnah, di mana akal mereka tidak mampu mengetahui hikmah-hikmahnya.

Demikianlah semua kelompok ahlul bid’ah akan menjauhkan umat dari sun-nah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan berba-gai macam syubhat yang mereka perbuat. Kalimat di atas hanyalah alasan yang diada-adakan, sesungguhnya sebab uta-manya adalah karena mereka benci pada sunnah.

Sebagai penutup kita ingatkan ke-pada seluruh kaum muslimin untuk kem-bali kepada agama Allah, ikutilah sun-nah-sunnah Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesung-guhnya sebab terjadinya bencana, kehi-naan dan diinjak-injaknya kaum musli-min oleh musuh-musuhnya adalah karena kelalaian mereka dari agama Allah. Ketika mereka meremehkan ajaran Allah dan melupakannya, maka terjadilah apa yang telah terjadi dari kehinaan dan kerendahan yang menimpa umat Islam. Dalam keadaan seperti, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali kembali kepada agama tersebut secara keseluruhan, baik yang diwajibkan, maupun dengan meng-hidupkan yang mustahab, mempelajari, mengamalkan dan menyampaikannya kepada umat.

Allah telah berjanji kepada mereka yang beriman dan beramal shalih akan diberi kemuliaan dan menjadi penguasa di muka bumi dalam firman-Nya:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan men-jadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesu-dah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada memperseku-tukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (an-Nuur: 55).Wallahu a’lam

Sekian jawaban telak dari ustadz Muhammad Umar assewed dalam membantah syubhat di atas.

Terakhir, sebelum penulis menyelesaikan bab ini, penulis akan nukil syubhat lain yang hampir semakna melarang perbuatan syirik dan bid`ah , yakni : sebuah anologi batil : sesungguhnya perumpamaan orang-orang yang berbicara dalam masaslah furu`iyyah, sementara musuh mengintai kita adalah seperti orang yang berdiri di pantai dan orang lain berjuang melawan ombak dan hampir tenggelam, lalu sebagian auratnya tampak. Maka orang tadi sibukberteriak mengingkari auratnyayang tampak padahalorang tadi di ambang kematian dan hampir tenggelam.

Jawaban terhadap perkataan ini : engkau telah mengkiyaskan perkara yang tidak serupa, karena pokok yang kamu jadikan sandaran adalah keadaan darurat, sedangkan mudlorot yang besar tidak ragu lagi harus didahulukan untuk dihilangkan, yaitu menyelamatkan jiwa orang tersebut dari pada madlorot yang kecil yaitu terbuka auratnya, maka semua kita wajib mengangkat senjata melawan mereka tanpa melihat perselisihan yang bersifat furu`.

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi berkata : Adapun cabang yang dianologikan adalah kondisi masyarakat kita pada sekarang ini. Maka tidak syak bahwa negeri kita tidak dalam keadaan dharurat yang di dalamnya akan menghancurkan jiwa dan agama, merusak ladang dan binatang ternak, dan semua kaum muslimin berlari untuk menyelamatkan orang-orang tua renta dan kaum wanita. Pernyataan tersebut kadang-kadang dapat diingkari begitu didengar atau orang yang mengatakan perlu dicurigai  tetapi saya akan mengemukakan dalil kepadanya dari kondisi kehidupan mereka sendiri. Saya berkata : apakah kondisi kehidupan kalian seperti orang yang menerjunkan dirinya ke dalam lautan seraya tidak memperhatikan segala sesuatu karena untuk menyelamatkan nyawa orang yang menghadapi ombak dan hampir tenggelam?Apakah dia itu kondisinya seperti kaum yang datang kepada mereka peringatan lalu diserukan untuk pergi ke medan perang?

Mengapa kalian hidup teratur dan nyaman dengan menikmati segala kebutuhan-kebutuhan primer dan sekunder sekalipun?kalian makan buah-buahan, tidur nyaman dihamparan, bersenang-senang di tempat liburan dan semua itu tidak kalian ingkari dan juga kalian tidak mengingkari orang lain yang berbuat demikian?  Lalu mengapa kalian meletakkan hambatan-rintangan dalam jalan sunnah, membuat beberapa perumpamaan serta mempersiapkan logika kalian untuk mengeluarkan bentuk-bentuk analogi yang rusak ini? Apakah sunnah Easululllah shallallahu alaihi wasallam lebih remeh bagi kalian  daripada berbagai rayuan duniawi tersebut? Apakah kalian tidak takut dengan perkataan umar : biarkanlah sunnah berjalan, dan jangan kamu menghalanginya sengan ar-ra`yu(Al-hujjah I/205, karya Al-Ashbahaniy). Jadi mendiamkan kemungkaran ,baik dalam masalah furu`iyyah maupun masalah usul, yang zhahir maupun batin, adalah salah satu sebab turunnya,siksa umum, fitnah dan azab.

Saya katakan : tidak ada tempat keselamatan dari semua itu kecuali berpegang teguh hadist shohih dan dalil yang jelas dari Al-Quran. Dan Allah sajalah yang memberikan taufiq kepada kebenaran, sesungguhnya Dia Maha lagi Maha Pemberi. (kitab ilmu ushul al-Bida` Dirasah Takmiliyah Muhimmah fii ilmi ushul al-fiqh karya Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid al-Atsary, dengan sedikit diringkas.<penulis>)

SYUBHAT KEENAM: KAN ULAMA MASIH BERSELISIH?

Banyak orang ketika anda mengingkari perbuatan yang ia lakukan berkilah : ini masih diperselisihkan oleh para ulama, jadi tidak usah kita besar-besarkan. Sehingga perselisihan ulama dijadikan hujjah(alasan)untuk membenarkan pendapat tersebut sangat lemah, padahal alasan seperti itu bukanlah hujjah syar`i bahkan kaidah yang tidak pernah di tunjukkan oleh dalil baik dari Al-Quran naupun as-sunnah.

Al-Hafidz Abu Umar Ibnu Abdil Barrberkata : perselisihan ulama bukanlah hujjah/alasan menurut seluruh fuqoha yang saya ketahui, kecuali orang yang tidak mempunyai ilmu dan bashiroh, dan pendapatnya tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.(Jami` bayanil 1ilmi wa fadllihi 2/229).

Al-Khaththabi berkata : ikhtilaf(perselisihan)ulama bukanlah hujjah, menjelaskan sunnah itulah itulah hujjah atas orang yang berselisih dari dahulu sampai sekarang.(A`lamul hadist 3/2092).

Asy-Syathibi berkata : perkara ini telah melebihi batasan semestinya, sehingga perselisihan ulama dijadikan alasan untuk membolehkan…barangkali muncul fatwa yang melarang, lalu dikatakan : mengapa engkau melarang, padahal masalah ini masih diperselisihkan?! Ia menjadikan perselisihan ulama sebagai alasan untuk membolehkan hanya karena masalah itu masih diikhtilafkan, bukan karena adanya dalil yang menunjukkan kepada kekuatan pendapatnya, tidak pula karena taklid kepada ulama yang lebih layak untuk diikuti dari orang yang melarang tadi. Inilah adalah sebuah kesalahan terhadap syari`at, karena ia telah menjadikansesuatu yang tidak layak dijadikan hujjah.(Al-Muwafaqat 4/41).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : tidak boleh bagi seseorangpun berhujjah dengan pendapat seorang ulama dalam masalah-masalah yang diperselisihkan. Sesungguhnya hujjah itu hanyalah nash dan ijma` serta dalil yang yang diistimbath darinya yang pendahuluannya ditetapkan oleh dalil syariat, bukan ditetapkan oleh pendapat sebagian ulama, karena pendapat ulama dapat dijadikan hujjah jika sesuai dengan dalil syariat bukan menentang dalil syariat.(Majmu fatawa 26/202-203).

Meluruskan pemahaman

Sebagian   orang ada yang berdalildengan sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : janganlah kamu sholat kecuali di Bani Quroidzoh, kemudian di tengah jalan masuk sholat ashar, maka sebagian mereka berkata : kita sholat disana. Sebagian lagi berkata : kita sholat di jalan, beliau tidak bermaksud semikian. Lalu disebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam tapi beliau tidak mencela seorang pun daei mereka. Di dalam kisah tersebut, Nabi Shallallahu alaihi wasallamtidak mencela seorangpun dari mereka, ini menunjukkan bahwa setiap mujtahid itu benar. Namun al-hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (7/409-410), menyanggah pemahaman tersebut, beliau berkata : berdalil dengan kisah ini untuk mengatakan bahwa setiap mujtahid itu benar adalah pendalilan yang tidak jelas, hadist ini hanya menunjukkan bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam tidak mencela orang yang memberikan kesungguhannya untuk berijtihad.

Hal ini menunjukkan kepada dua perkara : pertama : pendapat yang mengatakan bahwa setiap mijtahid itu benar adalah pendapat yang batil, karena Nabi Shallallahu alaihi wasallamhadist ijtihad(yaitu hadist apabila hakim berijtihad kemudian benar maka dia mendapatkan dua pahala dan apabila salah maka ia mendapatkan satu pahala), beliau hanya menyebutkan benar dan salah tidak mengatakan bahwa kedua-duanya benar. Kedua bahwa pahala tadi adalah khusus bagi para mujtahid, dan bila telah nyata bahwa mujtahid itu salah dalam ijtihadnya maka haram kita mengikuti kesalahannya tersebut.

Sebagian lagi berhujjah dengan hadist :

اخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ

Perselisihan umatku adalah rahmat.

Padahal derajat di atas TIDAK ADA ASALNYA. Para pakar hadits telah berusaha untuk mendapatkan sanadnya, tetapi mereka tidak mendapatkannya, sehingga al-Hafizh as-Suyuthi berkata dalam al-Jami’ ash-Shaghir: “Barangkali saja hadits ini dikeluarkan dalam sebagian kitab ulama yang belum sampai kepada kita!” Syaikh Al-Albani berkata, “Menurutku ini sangat jauh sekali, karena konsekuensinya bahwa ada sebagian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang luput dari umat Islam. Hal ini tidak layak diyakini seorang muslim. Al-Munawi menukil dari as-Subki bahwa dia berkata: “Hadits ini tidak dikenal ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu’ (palsu).” Dan disetujui oleh Syaikh Zakariya al-Anshori dalam Ta’liq Tafsir Al-Baidhowi 2/92.( Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah: 57)

Oleh karena itulah, Al-Munawy menukil dari Imam As-Subki bahwa beliau menyatakan, “(Ucapan ini) tidak dikenal di kalangan para muhaaditsin, dan saya tidak menemukan untuknya sanad yang shahih, tidak pula (sanad) yang lemah dan tidak pula (sanad) yang palsu”.

Adapun dari sisi matan (redaksi) hadits, maka Imam Ibnu Hazm setelah mengisyaratkan bahwa ucapan di atas bukanlah hadits Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, beliau menegaskan, “Ini adalah termasuk di antara ucapan yang paling rusak, karena jika seandainya perselisihan adalah rahmat maka tentunya persatuan adalah siksaan, dan hal ini tentunya tidak akan dikatakan oleh muslim manapun”.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani juga berkata:

“Termasuk diantara dampak negatif hadits ini adalah banyak diantara kaum muslimin yang terus bergelimang dalam perselisihan yang sangat runcing diantara madzhab empat, dan mereka tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan hadits yang shohih sebagaimana perintah para imam mereka, bahkan menganggap madzhab seperti syari’at yang berbeda-beda!!

Mereka mengatakan hal ini padahal mereka sendiri mengetahui bahwa diantara perselisihan mereka ada yang tidak mungkin disatukan kecuali dengan mengembalikan kepada dalil, inilah yang tidak mereka lakukan! Dengan demikian mereka telah menisbatkan kepada syari’at suatu kontradiksi! Kiranya, ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ini bukanlah dari Allah karena mereka merenungkan firman Allah tentang Al-Qur’an (yang artinya):

Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

(QS. An-Nisa: 82)

Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa perselisihan bukanlah dari Allah, lantas bagaimana kiranya dijadikan sebagai suatu syari’at yang diikuti dan suatu rahmat?!

  • Karena sebab hadits ini dan hadits-hadits serupa, banyak diantara kaum muslimin semenjak imam empat madzhab selalu berselisih dalam banyak masalah, baik dalam aqidah maupun ibadah. Seandainya mereka menilai bahwa perselisihan adalah tercela sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud dan selainnya serta didukung dengan banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang banyak sekali, maka niscaya mereka akan berusaha untuk bersatu. Namun, apakah mereka akan melakukannya bila mereka meyakini bahwa perselisihan adalah rohmat?!!

Kesimpulannya, perselisihan adalah tercela dalam syari’at.
Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata: “Perselisihan bukanlah rohmat, persatuan itulah yang rohmat, adapun perselisihan maka ia adalah kejelekan dan kemurkaan sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud”. (Syarh Mandhumah Al-Ha’iyah hlm. 193).]. Maka sewajibnya bagi setiap muslim untuk berusaha semaksimal mungkin untuk melepaskan diri dari belenggu perselisihan, karena hal itu merupakan faktor lemahnya umat, sebagaimana firman Allah (yang artinya):

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(QS. Anfal: 46).

Adapun ridho dengan perselisihan, apalagi menamainya sebagai suatu rohmat, maka jelas ini menyelisihi ayat-ayat Al-Qur’an yang secara tegas mencela perselisihan,  tidak ada sandarannya kecuali hadits yang tidak ada asalnya dari Rasulullah ini”. [ Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah 1/142-143 -secara ringkas-.]

Lihat: Al-Asrar Al-Marfuah (506) dan Tanzih Asy-Syariah (2/402)

Bagaimana pendapat anda?

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY