BOLEHKAH MERASA PALING BENAR? (BAG. 1)

7176

Mukadimah

Ketika kita, ustadz atau  masyaikh ahlussunnah (salafiyyin) menegur kesalahan seseorang atau kelompok harokah yang jelas-jelas menyelisihi dalil-dalil shohih, maka serta merta mereka menjawab dengan berbagai jawaban, di antaranya:
1. Jangan merasa benar sendiri,
2. jangan meributkan masalah-masalah kecil,
3.kamu hanya membahas cangkang bukan inti,
4. kamu jangan memecah belah persatuan umat,
5. kaum muslimin di bantai, tapi kamu tetap persoalkan bid`ah dan syirik?
6. kan ulama masih berselisih?
7. itu kan pendapat ulamamu, aku juga punya ulama/ustadz/kiyai?
8. menuntut ilmu kepada siapa saja, jangan pilih-pilih.
Begitulah Syubhat-syubhat yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin, tidak sedikit kaum muslimin yang kurang ilmu agama, terpengaruh dengan salah satu atau lebih di antara syubhat di atas. Lantas bagaimana kita menjawab syubhat-syubhat di atas,(yang sering dilontarkan oleh orang-orang awam bahkan para aktivis islam malah yang lebih memprihatinkan lagi lontaran-lontaran miring itu juga sering dihembuskan oleh tokoh-tokoh agama), insya Allah penulis akan menjawab syubhat-syubhat di atas dengan mengambil sumber rujukan utama dari sebuah buku yang sangat bagus berjudul : (meniti jalan kebenaran)Solusi Kebingungan Di tengah Keanekaragaman Pemikiran” karya  al-ustadz Abu Yahya Badrusalam,Lc. serta tambahan dari sumber buku Ilmu ushul Bida` karya syaikh Ali Hasan Al-Halabi al-Atsary dan sumber ilmiah lainnya. semoga bermanfaat.

SYUBHAT PERTAMA: JANGAN MERASA PALING BENAR

Banyak orang ketika anda tegur kesalahan yang ia lakukan berkilah dengan mengatakan sudahlah, jangan merasa benar sendiri!sehingga menjadi pertanyaan pada benak kita; apakah perkataan tersebut berasal dari wahyu ataukah hanya sebatas kilah yang tak beralasan pada dalil yang menunjukkan kepada kebingungan? Tentunya hal itu harus kita cermati secara seksama dengan hati yang dingin apakah ada ayat atau hadist atau pendapat para ulama yang mengatakan dengan perkataan tersebut. Coba lihat Qs. An-nissa : 59 :

إذا كنت آراء مختلفة حول قضية ما ، ثم استعادة إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر… “

“jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan rosul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (Qs. An-nissa : 59).

Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa setiap perselisihan wajib dikembalikan kepada Allah dan Rosul-Nya, Allah tidak mengatakan;jika kamu berselisih janganlah kamu merasa benar sendiri, atau kembalikan pada pendapat masing-masing. Akan tetapi Allah menyuruh untuk mengembalikannya kepada Quran dan sunnah, ini menunjukkan bahwa yang benar hanyalah yang berdasarkan al-quran dan sunnah.

Para sahabat senantiasa menyalahkan orang-orang yang mereka pandang salah dan tidak pernah di antara mereka yang mengatakan : jangan merasa benar sendiri!aeperti dalam suatu kisah yang diriwayatkan oleh addarimi dalam sunannya bahwa Ibnu Mas`ud mendatangi suatu kaum yang berdzikir berjamaah dengan memakai kerikir dan berkata : celaka kamu hai umat Muhammad betapa cepatnya kebinasaan kalian… apakah kamu merasa di atas millah yang lebih baik dari millah Muhammad ataukah kamu hendak membuka pintu kesesatan?!kemudian mereka berkata : Sesungguhnya kami menginginkan kebaikan”. Beliau berkata : berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi ia tidak mendapatkannya(karena caranya salah). Dalam kisah tersebut tidak dikatakan : jangan kamu merasa benar sendiri.

Demikian pula para tabiin, disebutkan dalam kisah yang diriwayatkanoleh al-baihaqi dalam sunannya(2/466), Abdurrozaq(3/52), ad-darimi dan ibnu Nashr bahwa sa`id bin Musayyid melihat seorang laki-laki sholat setelah terbit fajar lebih dari dua rokaat, lalu sa`id melarangnya, kemudian orang itu berkata : wahai Abu Muhammad, apakah Allahakan mengadzab saya gara-gara sholat? Beliau menjawab : tidak, tapi Allah akan mengadzabmu karena kamu menyalahi sunnah”. Tidak pula dikatakan padanya : jangan merasa benar sendiri.

Demikian pula tabi`ut tabiin dan para ulama setelahnya. Senantiasa mereka membantah pendapat yang mereka pandang lemah atau salah tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan : jangan merasa benar sendiri.

Disebutkan dalam kisah bahwa imam Asy-Syafii mendebat imam Ahmad dalam masalah hukum orang meninggalkan sholat, di mana Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang meninggalkan sholat kafir murtad dai agama Islam, sedangkan imam Asy-Syafii tidak mengkafirkannya, tapi imam Asy-syafii atau imam Ahmad tidak pernah mengatakan : jangan merasa benar sendiri! Tapi yang dikatakan imam Asy-Syafii adalah : tidaklah aku berdialog dengan seorang pun kecuali aku berkata : Ya Allah, alirkanlah kebenaran pada lisan dan hatinya, jika kebenaran itu bersamaku, ia mau mengikutiku dan kebenaran itu ada padanya, aku akan mengikutinya.(lihat ilmu ushul bida` hal. 179).

Mereka juga menulis kitab-kitab bantahan terhadap bid`ah dan kesesatan, imam Ahmad menulis kitab Arrodd `alal jahmiyyah(bantahan terhadap jahmiyyah), Abu Dawud punya kitab Arrodd `alal qodariyyah(bantahan terhadap qodariyyah), Ad-darimi menulis kitab Roddu ustman ad darimi `ala Bisyir Al-Marisi adl Dlooll(bantahan ustman ad-darimi terhadap Bisyir Al-Marisi yang sesat), dan banyak lagi kitab-kitab bantahan lainnya. Tidak ada satupun di antara mereka yang berkata : jangan merasa benar sendiri. Cobalah anda renungkan perkataan syaikhul islam Abu Ismail Abdullah bin Muhammad Al-Harowi : pedang dihadapkan kepadaku sebanyak lima kali bukan untuk menyuruhku agar keluar dari keyakinanku, akan tetapi dikatakan kepadaku : diamlah dari orang yang menyelisihimu!! Aku tetap menjawab : aku tidak akan pernah diam….(kitan siyar a`lam Nubala 18/509 karya Imam Adz-Dzahabi).

Merasa benar adalah fitrah manusia, buktinya jika engkau bertanya kepada orang yang mengatakan : jangan merasa benar sendiri” apakah anda merasa benar dengan perkataan tersebut? Tentu ia berkata : ya. Dia sendiri merasa benar sendiri dengan pendapat tersebut lalu ia melarang orang lain merasa benar sendiri,  jelas ini kontradiktif yang fatal. Jadi merasa benar dengan pendapat yang jelas dalilnya lebih-lebih bila didukung pleh `ijma ulama adalah sebuah keharusan sedangkan merasa benar dengan kesesatan adalah kesalahan. Adapun dalam perkara ijtihadi yang tidak ada dalilnya yang gamblang maka kita ikuti yang paling kuat dalilnya tanpa menyesatkan yang lainnya. Wallahu a`lam.

SYUBHAT KEDUA: JANGAN MERIBUTKAN HAL-HAL KECIL

Bila anda mengingkari sebuah bid`ah, sebagian orang berkata kepadamu : masalah sepele saja diributkan. Atau berkata : masih ada masalah yang lebih besar dari itu. Dan lainnya sebagainya. Cobalah kita merenungkan perkataan imam al-Barbahari berikut ini dalam kitab yang agung “Syarhussunnah” : Waspadalah terhadap bid`ah-bid`ah kecil, karena bid`ah yang kecil itu akan tumbuh menjadi besar. Demikianlah setiap bid`ah-bid`ah yang diada-adakan di dalam umat ini tadinya kecil menyerupai kebenaran, lalu terpedayalah orang yang masuk kedalamnya dan tidak dapat keluar darinya, kemudian bid`ah itu menjadi semakin besar sehingga besar sehingga dijadikan agama yang diyakini, maka ia pun menyalahi jalan yang lurus dan keluar dari (rel) Islam.

Perkataan beliau menunjukkan bahwa kita tidak boleh menyepelekan bid`ah sekecil apapun, karena asal muasal bid`ah tadinya kecil lalu menjadi besar akibat dianggap sepele. Maka hendaklah bertakwa kepada Allah setiap orang yang menganggap sepele bid`ah, karena perbuatan tersebut sangat bertentangan dengan petunjuk salafusholeh.

Ibnu Umar mengingkari bid`ah

Abu Daud meriwayatkan dalam sunannya no. 537, dengan sanad yang hasan dari Mujahid ia berkata : Aku pernah bersama Ibnu Umar, lalu ada orang yang melakukan tatswib di sholat dzuhur atau ashar, maka berliau berkata : Ayo keluar bersama kami, karena sesungguhnya ini adalah bid`ah. Dalam al- hawadist wal bida` disebutkan : makna tatswib adalah orang-orang yang berdiri di pintu masjid untuk menyeru : sholat! Sholat!. Coba engkau bandingkan dengan zaman sekarang, bila ada orang yang mengingkari orang-orang yang menyanyikan sholawat dan dzikir di masjid dengan suara keras sebelum adzan di kumandang, akan dikatakan kepadanya : masalah sepele ini tidak perlu dipermasalahkan. Memang sangat jauh perbedaan antara orang yang berilmu dengan orang tidak berilmu.

Abdullah bin Mas`ud dan dzikir berjamaah

Demikian pula kisah Abdullah bin mas`ud yang mengingkari sekolompok orang yang berdzikir secara berjamaah, mereka berkata : kami tidak menginginkan kecuali kebaikan. Lalu beliau menimpali : berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan ternyata ia tidak mendapatkannya.(tata caranya salah). Kemudian Amru bin salamah perawi kisah tersebut berkata : kami melihat kebanyakan orang yang ikut halaqoh itu menyerang kami bersama khawarij di perang Nahrowan. Subhanallah, sungguh benar apa yang dikatakan oleh Imam Al-Barbahari, bid`ah yang di anggap sepele berubah menjadi besar!.

Malik bin Anas (Imam Darul Hijroh)

Al-Khotib Al-Baghdadi dalam Al faqih wal Mutafaqqih meriwayatkan dari sufyan bin uyainah, ia berkata : aku mendengar Malik bin Anas ditanya oleh seseorang : wahai Abu Abdillah, dari mana aku mulai berihrom? Beliau memjawab : dari Dzul Hulaifah tempat Rosulullah shallallahu alaihi wasallam memulai. Ia berkata : tetapi saya ingin mulai berihrom dari masjid(Nabawi)dari sisi kuburan Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Beliau berkata : jangan engkau lakukan karena khawatir fitnah menimpamu. Ia berkata : fitnah apa yang ada padanya? Saya hanya menambah beberapa mil saja. Beliau berkata : fitnah mana yang lebih besar dari engkau memandang telah mendahului kepada sebuah keutamaan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذينَ يُخالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصيبَهُمْ عَذابٌ أَليمٌ

(maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut mendapatkan fitnah(syirik)atau ditimpa adzab yang pedih.(Qs. An-Nur : 63).

Coba perhatikan, orang tersebut menganggap remeh tambahan yang ia lakukan dengan mengatakan : fitnah apa yang ada padanya? Saya hanya menambah beberapa mil saja. Tapi bahaimana jawaban Imam Malik seorang imam yang dipenuhi dengan ilmu dan hikmah ? beliau menganggapnya sebagai fitnah yang besar karena orang itu telah berpandangan keliru dengan mendahului sebuah keutamaan yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Perkataan Imam Malik itu menjadi cambuk yang keras bagi setiap orang yang melecehkan perkara bid`ah sekecil apapun bentuknya.

Aneh Tapi Nyata   

Apa  yang aneh? Yaitu perkataan mereka : jangan mempermasalahkan perkara yang sepele. Padahal kalau ada murid yang tidak mampu menyelesaikan soal yang sepele bagaimana bisa ia menyelesaikan sial yang lebih susah dari itu?!! Makanya kita balik bertanya : kalau memang menurut anda tidak pernah bisa menyelesaikannya?? Sesungguhnya perkataan itu memberikan pengaruh yang buruk kepada orang-orang awam, sehingga menjadikan mereka menganggap remeh hukum-hukum yang bersifat lahiriyah yang mereka anggap cangkang atau parsial seperti janggut, mengangkat celana di atas mata kaki dan lain sebagainya bahkan yang lebih mengerikan adalah menganggap bahwa masalah tawassul kepada selain Allah, Al-Quran makhluk atau bukan, Allah di atas Arsy atau tidak sebagai masalah sepele yang tidak perlu dibesar-besarkan. Allahu Musta`an.

Al Allamah Taqiyuddin As Subki ketika menanggapi perkataan orang yang mensifati orang yang mengingkari sebagian bid`ah sebagai ahli cangkang, beliau berkata : perkataan mereka “ahli cangkang”bila yang ia maksud apa yang dimiliki fuqoha berupa ilmu dan pengetahuan hukum, maka ia bukan cangkang, justru ia adalah inti dan orang yang mengatakan bahwa ia termasuk cangkang berhak diberikan sanksi karena syariat ini seluruhnya inti.(lihat ilmu ushul bida` hal. 259).

Imam al Bukhari memberikan bab dalam shohihnya : kitab berpegang kepada al-Quran dan sunnah, bab sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : “kamu pasti akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu.” Dan bab dosanya orang yang menyeru kepada kesesatan atau membuat sebuah tata cara.

Lalu al-hafidz Ibnu Hajar dalam syarahnya fathul bari (1/302) menukil perkataan al-Muhallab : “Bab ini dan yang sebelumnya dalam dalam rangka memperingatkan dari kesesatan dan menjauhi bid`ah dan semua yang diada-adakan dalam agama, dan larangan menyelisihi jalannya kaum mukminim.”

Kemudian Al-Hafidz mengomentari : “sisi peringatannya adalah bahwa orang yang membuat sebuah bid`ah akan menganggap remeh karena perkara itu di anggap ringan di awalnya, dan ia tidak akan merasakan mafsadah yang akan timbul yaitu ia mendapat dosanya orang yang mengamalkan bid`ah tersebut setelahnya, walaupun ia tidak mengamalkannya akan tetapi karena ia yang pertama kali mengada-adakannya”.

Bagaimana pendapat anda?

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY